Awas, Penipuan Kartu ATM dan Kartu Kredit !!

Awasilah kartu ATM Anda! Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti para pemilik kartu ATM yang sekarang jumlahnya banyaknya sekali. Barangkali saja, kartu ATM Anda palsu. Sebab, sekarang banyak penyedia jasa pembuatan kartu ATM yang di antaranya memberikan kartu palsu.
Hasil amatan Blog Studi mengenai kartu ATM palsu berikut barangkali bisa dijadikan catatan bagi semua pengguna ATM. Sebab kartu ATM palsu ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan illegal, seperti penipuan, transaksi online, hingga money laundry.
Lantas, darimana sebenarnya kartu ATM palsu bisa sampai tangan konsumen? Ternyata, penyebab utamanya bersumber dari pembelian melalui website. Tidak sedikit website yang menawarkan jasa pembuatan kartu ATM palsu. Namun berdasarkan dari testimonial yang ada, dapat dipastikan 98% penawaran jasa tersebut ternyata menipu. Website ini biasanya menggunakan jasa layanan website yang gratis.
Masyarakat juga disarankan berhati-hati denga jasa virtual kartu kredit. Jasa ini banyak dicari. Sebenarnya jasa ini tidak termasuk dalam kategori pembuat kartu kredit palsu. Usaha jasa ini banyak dicari orang yang tidak memiliki kartu kredit.
Memang tidak mudah membuat kartu kredit bagi masyarakat yang berpenghasilan minim. Karena itulah lantas banyak orang memanfaatkan berbagai perusahaan jasa yang bisa membuatkan kartu kredit.
Cara kerja virtual credit card adalah provider mengeluarkan kartu kredit yang dapat digunakan untuk berbelanja semacam kartu debit. Klien diwajibkan menyetor uang untuk membuat kartu kredit virtual ini.
Permintaan tersebut bisa diketahui, misalnya dari tulisan “How do I load the prepaod card? Card can be loaded with one of the following options: Paypal, e-gold, Western Union, Moneygram, or bank wire transfer, domestic or international. What is the prepaid card loading limit? Card minimum loading limit is $100 and maximum loading limit at any time is $25,000.”
Jadi minimum transfer sebesar 100 USD dan maksimum belanja 25.000 USD. Dalam praktiknya, tak semua merchant bisa memenuhi layanan klien. Bahkan tak sedikit yang menipu atau tidak membayar belanja klien. Padahal, klien sudah menyetorkan uang.
Hal lain yang perlu diperhatikan masyarakat adalah keberadaan perantara atau makelar. Cara semacam ini juga rentan membawa korban. Sebab, kualitas pelayanan tiap makelar bisa berbeda. Jika perantaranya kebetulan bagus dan jujur, mungkin tidak ditemui masalah berarti.
Tapi bagi orang yang kebetulan menemui perantara sembarangan dan kurang beretika, bisa saja kartu ATM yang diberikan palsu. Biasanya yang dijadikan sasaran korban adalah orang yang kurang berpendidikan.

Selain mewaspadai kartu ATM palsu, masyarakat juga perlu mewaspadai pencurian kartu kredit. Perlu dicatat, pencurian kartu kredit bukan hanya bisa lewat internet. Banyak juga pencuri yang beraksi dengan cara-cara konvensional.
Sebuah contoh kasus berikut bisa dijadikan pelajaranberharga.
Ada seseorang pergi ke klub fitness lokal dan meletakkan barang-barangnya di loker. Setelah selesai berolah raga dia mandi, keluar dan melihat pintu lokernya terbuka. Dia semula berpikir, mungkin ia lupa mengunci pintu loker.
Dia periksa dompetnya, kelihatannya beres. Semua kartu kredit ada di tempatnya. Beberapa minggu kemudian tagihan rutin kartu kredit diterimanya. Ada tagihan yang mencengangkan sebesar $14,000 atau 140 juta rupiah.
Dia segera menghubungi kantor kartu kredit itu dan marah-marah, berkata bahwa dia tidak pernah melakukan transaksi sebesar itu.
Petugas di sana kemudian melakukan pemeriksaan dan menurut data yang ada, tidak ada kesalahan pada sistem. Petugas itu bertanya apakah kartunya dicuri orang?
“Tidak,” katanya, tapi ketika dia membuka dompetnya, mengambil kartu kredit, ternyata kartunya sudah ditukar. Yang ada di dalam dompetnya sekarang adalah sebuah kartu kredit dari bank yang sama namun sudah kadaluwarsa.
Seorang pencuri ternyata telah membuka paksa lokernya di klub fitnes dan menukar kartu kreditnya.
Ada contoh lain kasus yang bisa dicatat bagi para pemilik kartu kredit atau ATM. Seorang laki-laki makan di restoran dan membayar tagihannya dengan kartu kredit. Kertas tagihan diantar, dia menandatangani , pelayan melihat bon dan memberikan kartu kreditnya.
Biasanya dia langsung memasukkan kartu kredit itu ke dalam dompet. Tapi lucunya dia secara tidak sengaja mengamati kartu kreditnya dan ternyata yang diterima adalah kartu kredit milik orang lain yang sudah kadaluwarsa.
Dia segera memanggil pelayan itu lagi dan pelayan itu tampak kebingungan. Si pelayan mengambil kartu itu, meminta maaf dan segera kembali ke kasir diikuti pandangan mata penuh selidik dari si pemilik kartu. Dia memberikan kartu kredit kadaluwarsa itu pada kasir yang lalu melihat ke bawah dan mengambil kartu yang sebenarnya.
Berdasarkan pengalaman ini, maka para pemegang kartu kredit disarankan memeriksa nama di kartu setiap kali menandatangani lembar tagihan atau jika kartu dibawa pelayan meski dalam waktu yang singkat. Banyak orang langsung memasukkan kartu kredit ke dalam dompet karena beranggapan bahwa kartu itu memang miliknya

0 comments:

Post a Comment

Popular Posts